Tuesday, March 8, 2022

Manipulasi Iklan dari Data Privasi Digital Pengguna

 Manipulasi Iklan dari Data Privasi Digital Pengguna

Oleh Rifqy Dzulfiqar 19407141006

Ilmu Sejarah A 2019

Saya ambil kasus dimana para peneliti di Safety Detectives menemukan pelanggaran data besar-besaran. Pelanggaran data melibatkan data pribadi setidaknya 214 juta pengguna Facebook, Instagram, dan LinkedIn. Detektif keamanan melaporkan bahwa ukuran data yang bocor adalah 400 GB. Data dicuri dari perusahaan manajemen media sosial Socialarks. Dalam beberapa kasus, data yang bocor termasuk alamat email, nomor telepon, nama lengkap, dan data spesifik lokasi. Penyusup mencuri data dari basis data Socialarks, ElasticSearch. Ironisnya, Socialarks juga "menambang" jutaan keping data dari tiga media sosial utama. Praktik ini melanggar aturan raksasa teknologi itu. "Namun, menurut temuan kami, database Socialarks menyimpan data pribadi dari Instagram dan LinkedIn, seperti nomor telepon pribadi dan alamat email pengguna yang belum memposting informasi itu di akun mereka.

Tidak jelas bagaimana Socialarks memperoleh data ini," lapor detektif keamanan. Mereka menemukan pembobolan basis data bulan lalu, tulis detektif keamanan. Setelah mengetahui tentang pemilik server basis data, mereka segera menghubungi Socialarks. Server terletak di lokasi yang sama. perlindungan hari. Sekarang jutaan data pribadi yang disusupi berpotensi membahayakan banyak orang. Detektif Keamanan memberikan contoh di mana data dapat digunakan untuk penipuan. Penjahat dapat mengirim email kepada individu yang ditargetkan dengan informasi pribadi. Dengan itu, target dapat lebih mudah dipercaya , sehingga memfasilitasi pelanggaran privasi yang lebih dalam.

Saya ingin orang tau semua, bahwa yang mereka lakukan di internet diawasi, dilacak, dan diukur. Dimana setiap tindakan yang kita lakukan dipantau dan direkam dengan hati-hati. Misalnya, gambar yang kita lihat dan berapa lama kita melihatnya. Iya sungguh, berapa lama orang melihatnya. Pihak dari suatu apps aplikasi atau media sosial mereka tau saat orang kesepian, depresi, dan tahu saat orang melihat foto mantan pasanganmu. Mereka tahu yang kita sedang lakukan saat larut malam. Mereka tahu semuanya. Terlepas kalian introver, ekstrover, jenis neurosis yang kalian punya, atau seperti apa kepribadian kalian. Disini pihak pengembang punya lebih banyak informasi soal kita daripada yang pernah dibayangkan dalam sejarah manusia. Dan ini belum pernah terjadi.

(sandy parakilas, Facebook Former operations manager) “Jadi, semua data yang kita berikan setiap saat dimasukkan ke dalam sistem yang nyaris tak diawasi manusia, yang terus membuat prediksi yang makin membaik tentang apa yang akan kita lakukan dan siapa kita”. Contoh : di sosial media secara tidak sengaja muncul kalimat “rekomendasi untuk anda” atau discont 75% gratis ongkir dll. Disini banyak orang salah memahami bahwa data milik Facebook yang dijual. Memberi data secara gratis bukanlah minat bisnis Facebook. Lalu pertanyaannya mereka apakan data privasi kita ?

Pihak pengembang aplikasi atau para programmer profesional membuat model yang memprediksi tindakan kita. Siapapun yang punya model terbaik akan menang. Contoh : ketika kita sedang scroll media sosial Instagram, dimana kecepatan tangan menggusap sebuah layar melambat mendekati akhir rata-rata durasi sesinya. Maka akan mengurangi iklan, lalu bagaimana yang dilakukan algoritma IA tersebut ? maka akan secara otomatis menampilkan postingan teman dan keluarga. Semua klik yang kita buat, semua video yang kita tonton, semua tombol suka. Semua itu diolah untuk membangun model IA yang lebih akurat. Setelah IA nya ada, pihak pengembang bisa memprediksi hal-hal yang dilakukan pengguna Instagram. Setelah semuanya terukur disitulah disisipkan sebuah iklan yang mana mampu mengsugesti kita untuk membeli produk yang diiklankan di Instagram.

Ada tiga tujuan utama di banyak perusahaan teknologi ini. Ada tujuan keterlibatan untuk menaikkan penggunaan kita, agar terus gulirkan layar. Ada tujuan pertumbuhan, untuk membuat kita kembali mengundang banyak teman Dan agar mereka mengundang lebih banyak teman. Lalu ada tujuan iklan untuk memastikan bahwa seiring semua itu terjadi, pihak IA menghasilkan uang sebanyak mungkin dari iklan dengan memanfaatkan data privasi pengguna. Masing-masing tujuan ini ditenagai oleh algoritma yang bertugas mencari tahu apa yang harus ditunjukkan agar jumlahnya terus naik.

IA yang diciptakan mengarahkan mesin inteligensi artifisial ini pada diri kita untuk merekayasa balik pemicu respons kita. Hampir seperti menstimulasi sel saraf laba-laba untuk melihat pemicu respons kakinya. Ini sungguh semacam eksperimen penjara tempat kita dipaksa orang memasuki matriks lalu kita di ambil semua uang dan data dari semua aktivitas privasi digital kita sebagai keuntungan. Lebih parahnya yaitu kita bahkan tak tahu itu sedang terjadi.

Saat ini kita telah menciptakan dunia tempat koneksi daring menjadi hal utama, khususnya bagi generasi muda. Namun di dunia itu, setiap dua orang terhubung itu hanya bisa didanai oleh orang ketiga yang licik yang membayar untuk memanipulasi dua orang itu. Jadi, diciptakan seluruh generasi global yang dibesarkan dalam konteks bahwa makna sebenarnya dari komunikasi dan budaya adalah manipulasi. Kita telah ditempatkan dalam penipuan dan kelicikan di tengah-tengah dari semua usaha kita. Seperti statement dari Arthur C. Clarke “any sufficiently advanced technology is indistinguishable from magic”. (semua teknologi yang canggih tidaklah berbeda dari sulap) Arthur C. Clarke.

Referensi :

Data Pribadi 214 juta Pengguna Facebook, Instagram, dan LinkedIn Bocor (kompas.tv) diakses pada 9 March 2022 pukul 05.05 WIB