Saturday, October 12, 2019

SUMBANGSIH DALEM JAYADIPURAN SEBAGAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA


RM/K.R.T Jayadipura, Maestro seniman multi talenta beliau menguasai seni tari dan musik kraton Yogyakarta (1887-1938) terutama gamelan. Dalem Joyodipuran, didirikan 1847, aslinya Dalem Dipowinoto, namun ditarik kraton karena tidak memiliki keturunan dan diberikan pada Jayadipura. Mendirikan sanggar Mardiguna (Hermani) & Krida Beka Wirama. Pentas untuk menyambut tamu Kraton dari Belanda atau Belgia. Pentas Wayang Wong tersebut dipersingkat menjadi dua Jam dengan tidak merubah isi dari ceritanya. Dengan kostum yang disesuaikan dengan filosofi cerita yang dipentaskan. Beliau juga menjadi pembuat gamelan gaya Yogyakarta. Panggung dibuat mirip sesuai tema cerita. Gamelan Jayadipura dirancang untuk kepatihan Yogyakarta, G.P.H. Hadikusuma dengan laras Slendro. Gamelan ini digunakan di Indisch Institut hingga tahun 1940 dan sering dijual belikan ke Belanda.

Beliau dekat dengan beberapa orang Eropa dan Amerika, beliau mengenal Elizabeth T., Antropolog asing yang ingin mempelajari budaya setempat dan diarahkan untuk bertemu beliau, selain itu ada pula seniman Walter Spies yang tinggal di Dalem selama 3 tahun. Walter lah yang menjadi guru Jayadipura seni lukis dan seni pahat. Ada pula Jaap Kunst seorang musisi yang belajar dari Jayadipura. Dalem ini pernah menjadi tempat berkumpul Jong Islamitien Bond pada 1925 dan 1930, seperti dimuat dalam De Indische Courant, sedangkan Joyodipuran juga pernah menjadi juri pameran batik, dan memberi subsidi sekolah Boedi Oetomo. Beliau pernah berkunjung ke Bandung dalam rangka Jong Java Instituut.  Untuk bagian-bagian ataupun tata ruang bangunan dalem Jayadipura yang pertama bangunan kuncungan (tempat untuk transit atau pemberhentian sementara kendaraan tamu), Pendapa (tempat untuk menerima tamu), pringgitan (tempat untuk persiapan penari yang akan tampil pentas di pendapa), dalem (dahulu berfungsi sebagai penyimpanan senjata) Dalem ini juga pernah digunakan kepanduan Hindia pada 1927 dan perkumpulan Kawoeloe, serta pertemuan perhimpunan Indonesia memprotes eksploitasi pekerja batik oleh pengusaha etnis Cina, dan Kongres Wanita Muda 22-25 Desember 1928. Menjadi tempat rapat PNI-PSI, dimana Bung Karno pernah berkunjung dua kali. Kemudian ada pertemuan PPPKI yang memuat 5000 orang.

Untuk kesan yang saya dapatkan dari MADILOG (Main Diskusi Dialog) di BPNB kamis, 26 september 2019  adalah bahwa tidak semua orang asing “londo” itu memiliki sifat menjajah maka jangan sakiti orang melalui lidah hingga sampai menyakiti hatinya.

NASIB SEJARAWAN DI ERA 4.0



Perkembangan zaman memang tidak dapat ditolak, kita memang harus dan mampu menerima serta menguasai namanya teknologi. Jangan sampai dengan berkembangnya teknologi yang mempermudahkan pekerjaan manusia membuat kita malah yang dikuasai teknologi. Contohnya media sosial atau medsos bahasa kerennya, media sosial memang didesain untuk menghubungkan antara account seseorang dengan lainnya melalui koneksi Internet, wadah tempat berkomunikasi dan bersosial di dunia maya. Menyenangkan memang, kita dapat berinteraksi dengan teman-teman jauh, berdiskusi dalam suatu group membahas suatu topik, chat melalui messenger, dan tukar informasi dengan cepat. Namun tidak sadarkah kalian kalo sebenarnya jejaring sosial itu malah bikin waktu kalian terbuang percuma? Dan ada banyak lagi seperti penggunaan fasilitas messenger (Whatsapp/BBM/SMS misalkan) serta tidak dapat di pungkiri dengan keluarnya spesifikasi HP yang semakin cerdas dilengkapi dengan kapasitas yang besar membuat kita terlena barmain game beresolusi tinggi. Dengan demikian bijaklah dalam menggunakan teknologi dan informasi.

Sekarang zaman dimana perkambangan iptek dan teknologi berkembang secara cepat melewati ruang dan waktu yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Bahkan diawal 2018 industri mulai menyentuh dunia virtual, konektivitas manusia maya, mesin dan data digital. Istilah ini dikenal dengan nama Internet of things atau (LOT). Lantas mengapa kita mengambil prodi sejarah? Prospek Pekerjaan apa setelah lulusan sarjana?.

Eduard Hallett Carr menyatakan “sejarah adalah suatu proses terus-menerus interaksi antara sejarawan dengan fakta-fakta yang ada padanya, suatu dialog tidak henti-hentinya antara masa sekarang dengan masa silam”. Intinya bahwa yang terjadi pada masa lampau bukan sesuatu yang mati atau berhenti. Terdapat tiga konsep penting dalam sejarah, pertama berkaitan dengan perubahan, tidak ada peristiwa yang terjadi dua kali terjadi sekali dan bersifat unik. Sedangkan konsep ke dua sejarah berkaitan dengan waktu. Sama-sama berbicara revolusi tentu berbeda dengan revolusi industri dan revolusi kemerdekaan Indonesia. Hal itu sangat tergantung pada tempat dan waktu. Yang ketiga kontinuitas bahwa kisah sejarah selalu berkelanjutan. Konsep ini selalu yang berkaitan dengan perkembangan dan kemajuan. Oleh karena itu mengapa kita mengambil prodi sejarah sudah terjawab bukan ?. Lantas prospek pekerjaan seseorang sejarah menjadi apa ?. Sebelum itu harus diketahui bahwa lulusan sarjana di Indonesia dari tahun 2017 sampai 2019 meningkat disertai dengan pengangguran. Penyebab nya yaitu katerampilan tidak sesuai kebutuhan. Ekspetasi penghasilan dan status lebih tinggi. Penyediaan lapangan pekerjaan terbatas. Sehingga kita sebagai sejarawan harus siap bersaing dengan beberapa pekerjaan yang memang sudah di matangkan dengan prodi-prodi kejuruan. Berdasarkan survei pekerjaan masa depan yang dilakukan oleh World Economic Forum, beberapa pekerjaan diproyeksikan tumbuh hingga 33% pada tahun 2022. Sehingga sejarawan harus mempunyai skill analisis, pemahaman IT, dan memiliki kekreativitas tinggi yang dapat memunculkan ide inovatif untuk manusia. Sebagai contoh sekarang mulai akan dikembangkannya pembelajaran mengenai sejarah suatu pristiwa melalui game smartfon walaupun game ini masih bersifat sederhada dan perlu adanya penanganan serius dari pemerintah untuk dapat membantu mendanainya. Hal ini bertujuan agar anak-anak bangsa indonesia dapat mengenal beragam pristiwa-pristiwa bersejarah di Indonesia dengan mudah dan cepat.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan dan pelatihan Indonesia harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah sesuai kebutuhan pasar kerja. Lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter, kompeten, dan inovatif. Disamping itu dunia industri juga harus dapat mengembangkan strategi transformasi dengan mempertimbangkan perkembangan sektor ketenagakerjaan karena transformasi industri akan berhasil dengan adanya tenaga kerja yang kompeten. Di sisi lain, menjadi generasi yang hidup di era industri 4.0 harus mamiliki daya saing yang tinggi. Selain unggul di bidang akademik, generasi saat ini juga harus berdaya saing tinggi. Persaingan di luar sana sangat ketat, apalagi sekarang sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Selain itu menjadi dengan berkah kemajuan teknologi saat ini menjadi penulis dimedia sosial, wartawan internasional, keguruan, dan bergelut dibidang sejarah dalam flm layar lebar.

Sumber :
1. Kuntowijoyo, 2008, pengantar ilmu sejarah, makasar, rayhan intermedia
5. Supardi, 2011, dasar-dasar ilmu sosial, ombak