RM/K.R.T Jayadipura, Maestro seniman multi talenta beliau menguasai seni tari dan musik kraton Yogyakarta (1887-1938) terutama gamelan. Dalem Joyodipuran, didirikan 1847, aslinya Dalem Dipowinoto, namun ditarik kraton karena tidak memiliki keturunan dan diberikan pada Jayadipura. Mendirikan sanggar Mardiguna (Hermani) & Krida Beka Wirama. Pentas untuk menyambut tamu Kraton dari Belanda atau Belgia. Pentas Wayang Wong tersebut dipersingkat menjadi dua Jam dengan tidak merubah isi dari ceritanya. Dengan kostum yang disesuaikan dengan filosofi cerita yang dipentaskan. Beliau juga menjadi pembuat gamelan gaya Yogyakarta. Panggung dibuat mirip sesuai tema cerita. Gamelan Jayadipura dirancang untuk kepatihan Yogyakarta, G.P.H. Hadikusuma dengan laras Slendro. Gamelan ini digunakan di Indisch Institut hingga tahun 1940 dan sering dijual belikan ke Belanda.
Beliau dekat dengan beberapa orang Eropa dan Amerika, beliau mengenal Elizabeth T., Antropolog asing yang ingin mempelajari budaya setempat dan diarahkan untuk bertemu beliau, selain itu ada pula seniman Walter Spies yang tinggal di Dalem selama 3 tahun. Walter lah yang menjadi guru Jayadipura seni lukis dan seni pahat. Ada pula Jaap Kunst seorang musisi yang belajar dari Jayadipura. Dalem ini pernah menjadi tempat berkumpul Jong Islamitien Bond pada 1925 dan 1930, seperti dimuat dalam De Indische Courant, sedangkan Joyodipuran juga pernah menjadi juri pameran batik, dan memberi subsidi sekolah Boedi Oetomo. Beliau pernah berkunjung ke Bandung dalam rangka Jong Java Instituut. Untuk bagian-bagian ataupun tata ruang bangunan dalem Jayadipura yang pertama bangunan kuncungan (tempat untuk transit atau pemberhentian sementara kendaraan tamu), Pendapa (tempat untuk menerima tamu), pringgitan (tempat untuk persiapan penari yang akan tampil pentas di pendapa), dalem (dahulu berfungsi sebagai penyimpanan senjata) Dalem ini juga pernah digunakan kepanduan Hindia pada 1927 dan perkumpulan Kawoeloe, serta pertemuan perhimpunan Indonesia memprotes eksploitasi pekerja batik oleh pengusaha etnis Cina, dan Kongres Wanita Muda 22-25 Desember 1928. Menjadi tempat rapat PNI-PSI, dimana Bung Karno pernah berkunjung dua kali. Kemudian ada pertemuan PPPKI yang memuat 5000 orang.
Untuk kesan yang saya dapatkan dari MADILOG (Main Diskusi Dialog) di BPNB kamis, 26 september 2019 adalah bahwa tidak semua orang asing “londo” itu memiliki sifat menjajah maka jangan sakiti orang melalui lidah hingga sampai menyakiti hatinya.

