Monday, August 26, 2019

Pemberontakan Petani Banten 1888


Resensi Buku “Pemberontakan Petani Banten 1888”
Karya Sartono Kartodirdjo

Judul buku : Pemberontakan Petani Banten 1888
Pengarang : Prof. DR. Sartono Kartonodirdjo
Pengantar : Taufik Abullah
Penerjemah : Hasan Basari
Penerbit : Komunitas Bambu
Cetakan : pertama  2015
Jumlah halaman: 423

Buku ini merupakan karya disertasi terkenal dari sejarawan Indonesia yang juga menjadi Guru Besar FIB Universias Gadjah Mada (UGM). Karya ini berisi tentang sejarah gerakan sosial dan petani di Indonesia, tulisan ini merupakan anti-tesis terhadap historiografi kolonial Belanda-sentris yang menganggap rakyat dan kaum tani hanya memainkan peran pasif dalam sejarah Indonesia. Secara historis, buku ini lebih mengangkat sejarah sosial kaum pribumi.
Latar Belakang terjadinya peristiwa ini disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkesinambungan diantaranya faktor ekonomi, sosial, politik, dan agama. Di Banten terdapat suatu tradisi untuk memberontak yang terus menerus berlangsung dimana suatu lapisan besar penduduk mengalami ketersingkiran politik dan kehilangan hak istimewa mereka. Dampak penetrasi dominasi kolonial secara berlangsung telah mengacaukan kehidupan beragama yang mana suatu alat keorganisasian telah diciptakan untuk mengerahkan operasi dan memobilisasi sumber daya manusia menurut ruang dan waktu.
            Pemberontakan ini terjadi karena masuknya sistem perekonomian barat yang menyebabkan tergesernya sistem tatanan tradisional masyarakat ke sistem yang lebih modern. Namun nampaknya masyarakat Banten waktu itu begitu yakin untuk melakukan pemberontakan adalah soal keyakinan, dikarenakan pemerintah kolonial Belanda melarang warga setempat untuk melakukan acara keagamaan yang kemudian menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat pribumi terhadap pemerintah. Proses konsolidasi terus dilakukan oleh para elit agama dengan mendatangi tarekat-tarekat keagamaan.
          Pemberontkan terjadi begitu singkat dan cepat serta mudah dipadamkan oleh tentara pemerintah. Pemberontakan yang berlangsung kurang dari 1 bulan ini terjadi antara tanggal 9-30 juli 1988. Para pemberontak ditangkap, dipenjara, dibuang sampai dibunuh. Sementara pemimpin yang berhasil melarikan diri dikejar oleh tentara pemerintah yang pada akhirnya tertangkap dan dibunuh. Para pemimpin yang terlibat dalam pemberontakan petani Banten ini yaitu dari kalangan pemuka agama, seperti Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Wasid, dan Haji Marjuki.
            Dampak dari pemberontakan petani banten yaitu :
1.Dibidang politik yaitu pemecatan terhadap pejabat-pejabat yang dianggap bersalah melakukan tindakan-tindakan sewenang-wenangnya dibidang administratif,pencabutan ketetapan dan peraturan-peraturan mengenai pemungutan berbagai macam pajak dan adanya peraturan baru mengenai kerja wajib,sewa tanah,pajak dan perdagangan.
2.Dibidang budaya yaitu sistem tradisional mulai luntur dengan adanya budaya barat dan sikap masyarakat banten mulai kebarat-baratan.
3.Dibidang ekonomi yaitu perekonomian sangat hancur setelah peristiwa pemberontakan tersebut,lahan pertanian sudah tidak subur lagi dan banyak penyelewengan yang dilakukan oleh para elit tentang lahan negara.
4.Dibidang sosial yaitu rakyat banten menjadi semakin menderita karena adanya kerja paksa untuk pembuatan jalan anyer penarukan dan adanya westernisasi.
5.Dibidang agama yaitu membuat peraturan baru  tentang ketentuan  pembatasan jamaah haji bagi masyarakat banten khususnya, adanya larangan untuk mengadakan arak-arakan dan hiburan musik dalam pesta-pesta dan penyelenggaraan dzikir tidak boleh mengganggu lingkungan.
Kelebihan dalam buku Pemberontakan Petani Banten 1888 ini secara runtut menjelaskan mengenai jalannya peristiwa pemberontakan hingga tokoh-tokoh yang terlibat. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan Glosarium, Daftar Pustaka, Catatan Belakang di setiap Bab sehingga memudahkan untuk mencari, Tentang Penulis, kemudian juga ditampilkan tentang Apendiks yang menyangkut silsilah keluarga, pajak, petisi sampai orang yang berhaji. Buku ini tebal dan dicetak dengan kertas ringan sehingga tidak memberatkan saat dibaca.
Kekurangan buku dalam pergantian bab belum ada desain yang menghiasi, tulisan judul terlalu formal sehingga agak kurang menarik. Namum secara keseluruhan buku ini sangat layak dibaca, karena secara struktural buku ini menjelaskan mengenai sejarah pemberontakan kaum pribumi terhadap sistem perekonomian Barat yang dianggap lebih modern.  Selain itu, buku ini juga dianggap sebagai gebrakan untuk mengangkat sudut pandang yang Indonesia-sentris.


http://uny.ac.id
http://library.uny.ac.id
https://journal.uny.ac.id

Ada pertanyaan
Kontak saya rifqysmando@gmail.com

No comments:

Post a Comment